23 Nov 2016

Bersyukur Kunci Sukses Menuju Puncak #UsiaCantik





banner


“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik – baik perhiasannya adalah wanita shalehah“.
(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasaai)
 
Adakalanya memang penting buat kaum perempuan khususnya di Indonesia mendadar diri betapa cantiknya kita dilihat dari berbagai aspek specifik terkait dengan pencapaian – pencapaian yang telah banyak dilakukan, memang sepintas terkesan kental dengan aroma narsis mungkin mendekati  ujub yang sangat berbahaya bahkan terkesan  feodalis,  akan tetapi mari kita memilahnya dan mencoba memisahkannya dengan benteng imaginasi yang kelak akan tegas saat tiba di alam realitas.
 

Narsis Ujub Dan Feodalis

Konon salah satu tokoh mitos Yunani,  bahwa Narcissus  seseorang yang mendapat kutukan dari dewa menjadi makhluk yang teramat mencintai bayangan dirinya sehingga addicted bercermin  di sebuah kolam,  ia sedemikian terpengaruh dengan kecintaan dan over kebanggaan ;  diluar kesadaran dari karakter kecintaan  yang berlebihan ini  hingga tanpa sengaja menjulurkan tangan kedalam kolam tempat ia biasa bercermin hingga ia pun  tenggelam di telan deras arus air dalam kolam dari kejadian tersebut tumbuhlah kembang mitologi  yang dikenal hingga kini bernama  bunga  narsis.

Mitos tentang Narcissus paling tidak memberikan pelajaran bahwa segala sesuatu yang kelewatan atau berlebihan akan menjemput dampak kecelakaan bagi jiwa pengidapnya,  maka penulis kali ini mencoba dengan hati – hati mengungkapkan satu atau dua jenis pencapaian yang boleh di ekspose dalam konteks bersyukur pada Nya sehingga kelak menginspirasi dan memberikan manfaat energi untuk berkiprah di lini masing – masing.

Adalah sifat ujub  yang juga sangat penting kita hindari bersama, sedikit atau banyak persentasenya akan berdampingan dengan  pencapaian – pencampaian diri  yang gemilang satu hal yang fundamental  di tanamkan dalam diri  bahwa  keberhasilan individu adalah sangat bergantung dari lingkungan sekitar,  banyak orang berkontribusi terhadap pencapaian itu sehingga sifat ujub itu yang oleh al Qur’an di deskripsikan dengan jelas dalam satu kisah fenomenal  dan kemudian   disandangkan  kepada   Fir’aun -  Faraoh Ramses II   senasib dengan Narcissus,  maka Fir’aunpun di tenggelamkan  Allah SWT. pada samudra bernama  Laut Merah oleh Sang Penguasa alam,  kendati ia ingin sekali  bertaubat dan nafsu hendak  kembali ke daratan. 

Fir’aun  terlambat . . . kemudian   menjadi mummy lazim di kunjungi penduduk dunia yang menjadi salah satu destinasi  wisata Mesir mummy Fir’aun adalah pelajaran berharga  karena mengidap penyakit menahun bernama ujub. 

pict : dari Mbak Vivera Siregar

di makam suami tercinta (pict :dok.pribadi)



Baiklah kali ini kita berbincang hangat gaya perempuan yang hendak mencapai puncak #UsiaCantik memaparkan diri secara transparan sejenak saja tidak hendak berlama – lama inipun   demi  menyulut semangat   menanti akhir kehidupan yang lebih barokah sehingga memperoleh labeling  khusnul khotimah  Insya Allah. Amiin . . . Amiin Yaa Rabbal ‘Alamiin,

Penulis mendadarkannya tidak bermaksud narsis serta berjuang keras menghindari sejauh - jauhnya sifat ujub  juga tidak bermaksud   masuk ke wilayah karakter feodalism yang membabi buta dimana pada saat ini peran media menjadi sangat mendukung untuk memberhalakan sesuatu apapun.

Terpampang jelas di depan mata bangsa ini sifat feodalism yang ditanam subur secara masif  salah satunya dengan memberhalakan kecantikan, tidak perlu heran kecantikan memang sudah menjadi salah satu berhala sejak jaman purba.

Maka wanita – wanita yang merasa dirinya cantik secara lahiriah mereka sadar atau tidak telah  membangun sekte khusus yang juga mendapat perlakuan istimewa dari media secara intens termasuk orang – orang yang terkait dengan pengagungan kecantikan dari sekitarnya sehingga muncul kaum feodalist dilingkup ini,  karena pada umumnya mereka belum mengetahui secara gamblang tentang sejarah yang mengisahkan Ibunda Siti Hawa dan Siti Sarah adalah makhluk tercantik di dunia yang Allah ciptakan.

Seorang ulama menjabarkan secara persentase angka  berdasar hadis qudsi bahwa Allah menganugerahkan kecantikan kepada Ibunda Siti Hawa dan Siti Sarah 90%  yang meliputi kecantikan seluruh alam tidak akan ada yang menandingi kecantikan mereka berdua ;  sedangkan sisa kecantikan yang di taburkan ke alam dunia ini  hanya tinggal 10 %  Allah berikan pada semua perempuan di muka bumi ini  dari sejak  jaman purba hingga kini, mari kita cerna jika sepuluh persen bernama kecantikan dibagikan dengan total populasi penduduk alam  dari sejak dunia lahir hingga saat ini . . . dan bersama kecantikan yang ada di muka bumi ini secantik apa seseorang dengan berbagai aktribut kebesarannya adalah tidak akan sampai  seulas debu setelah itu Allah akan mencabut kecantikan mereka dan kita semua yang tersisa adalah ‘bangkai’   kata vulgar yang sesungguhnya tidak layak disandangkan pada makhluk bernama manusia.

(Masya Allah bagi mereka yang memberhalakan kecantikan itu . . . !)


dia selalu ada mendampingi kami dengan setia (pict:dok.pribadi) 


Beradaptasi Dengan Dukalara
Penulis merasakan bahwa inilah puncak prestasi yang tengah dirintis dengan tangis di rambah kealam duka merayap dibelantara fana jatuh bangun dan tertatih – tatih adalah melewati detik demi detik setiap helaan nafas lara merangkak meninggalkan masa berkabung teramat panjang setelah wafat sang kekasih tercinta ia telah di panggil oleh Nya pada hari senin 06 April 2015 / 16 Jumadil akhir 1436 H dalam kondisi terpuji saat menunaikan shaum sebagai sunnah Rasulullah Saww., dunia seakan – akan runtuh dan seisi alam ini tidak bermakna tanpa dia.

Ketika saya merasa sukses menyelesaikan pendidikan formal hingga strata dua, maknanya kosong  tanpa almarhum, keberhasilan takkan terwujud,  juga tidaklah mungkin level itu tercapai jika tidak karena dukungan moril doa dan apapun ia lakukan demi gelar M.Pd yang kemudian dalam kedinasan penting dilekatkan,  kemudian semua orang mengapresiasi kehebatan saya sebagai seorang Ibu berputra lima dan berputri tujuh orang dengan label anak – anak kami mandiri santun dan tekun ibadah bahkan secara ukuran diluar kebiasaan tiga orang  dari mereka menjadi blogger yang aktif menulis bukan . . .  bukan . . . karena diri hamba;  yang dianggap cerdas oleh lingkungan dilevel  kampus Perguruan Tinggi  yang berwibawa IAIN Yogya dan UPI – Bandung semua salah menduga kecerdasan, ketangguhan, kehebatan dan kesuksesan karena ada seseorang yang memberi dopping semangat dan kekuatan dialah suami yang pergi dengan iringan Takbir, jeritan tangis anak dan isteri.

Saat ini ada sebuah lembaga swadaya kaum perempuan menawarkan dengan hangat agar saya kembali melanjutkan kuliah strata tiga pembiayaan mereka yang menanggung,  fikiran melayang kepada almarhum dan secara diplomasi menjawab bahwa “saya sedang konsentrasi memikirkan pendidikan ke lima putera / puteri yatim peninggalan ayahnya”  padahal dalam benak di diri hamba saat ini sang istri yang tangguh itu belum berminat lagi untuk melakukan  apapun juga, jiwanya ambruk semangatnya tengah direkonstruksi  kalaupun ada berbagai kegiatan semata – mata  bertahan  dan mencoba menapaki dunia dengan normal agar semua anak – anak tidak ikut kebingungan dengan tingkah polah saya sebagai Bundanya. 
Bunda tertatih – tatih memetik satu dua tangkai semangat yang masih bisa diraih anakku semoga bertahan. . . demikian jeritan - jeritan di batin.


eksyen ajaran Donna Imelda (pict:Lalu Budi Karyadi) 

Berharap Selalu Dekat padaNya (pict.dok.pribadi)


Memang berbagai hal dilakukan untuk menetralisir diri dari kepedihan yang menusuk  - nusuk hingga seluruh sel – sel di tubuh bereaksi pilu dan ngilu yang . . .   jangankan berfikir untuk berdandan bergerakpun jika tidak diiringi dengan  kalimat takbir dan shalawat pada Nabi
Allohummashalli’ala Muhammad, yang bisa dilakukan  diam mematung adalah pilihan tanpa alternatif.

Membaca al Qur’an  tadarrus rutin menjadi amalan harian sehingga merasa bahwa Allah dengan berbagai kalimat – kalimat Ilahiyah yang semisal Dia katakan pada kita semua dalam dialog 

“Benar engkau mengaku beriman?”

 “Dengan sesungguhnya ya Allah hamba mengaku beriman” 

penuh rasa malu mengungkapkan pengakuan ini, walau dalam hati membuncah tanya dan penuh keraguan meskipun sepemahaman berbagai cobaan telah hamba lewati :
-     Keterbatasan hidup tanpa materi berlimpah dilewati dengan mulus dan masih belum berkecukupan jika ditatapdari aspek ketidak bersyukuran, katakan miskin akan tetapi jujur adalah kemewahan yang kami punya.
-       Kesakitan fisik yang sungguh tiada tandingannya dengan melahirkan dua belas putera dan puteri lancar dan sehat Allah anugerahka kekuatan itu.
-    Penghinaan dan pelecehan,  fitnah dari lingkungan sekitar  kami berdua bisa saling mengatasi dan saling memotifasi.
-        Bermacam – macam probrem menghadapi kesemua putera dan puteri kami bisa saling berdikusi dengan sang suami.

Kali ini Allah kasih ujian dalam kalimat yang menyayat :  



 

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka di biarkan  (saja) mengatakan : “Bahwa kami beriman, sedang mereka tidak diuji lagi” QS. al Ankabut (29) : 2

Bermacam ayat, menjadi penguat dan pengokoh jiwa meskipun selalu pada akhirnya masuk pada kesimpulan orang Sunda mengucapkannya dengan istilah populer  seperti ini . . .  

Ngajerit maratan langit,  ngoceak maratan jagat 

dengan terjemahan yang kurang lebih  mendekati 

“Menjerit hingga ke atap langit, berteriak hingga kebatas jagat”

Sikap kita sebagai seorang hamba yang tengah dalam ujian – Nya, tunduk dan patuh dengan seluruh tubuh tersungkur diatas tanah bagai binatang yang terluka parah, hanya pasrah terhadap semua ketentuan Allah Yang Maha Berkehendak. 

Shilah arrahiim  adalah salah satu cara menetralisir duka lara dalam jiwa,  disamping dari perjumpaan saling bertatap wajah  membangun kekuatan batin berbagi pengalaman suka duka  disana muncul kekuatan yang tidak di duga – duga, dengan shilah ar rahim cinta terpatri oleh – oleh nya buat masing – masing adalah saling mendoakan akan kesehatan dan ketabahan mengarungi gelombang dan lautan kehidupan

Lakukan banyak hal rencanakan semuanya sepadat mungkin, dinamika adalah teladan yang diwariskan  Ibunda Ismail saat mencari air untuk putera semata wayang ia berlari menuju Shafa tidak dijumpai air dan kembali berangkat menuju Marwah sama keringnya, dengan harap kembali ke gunung yang tadi telah ia datangi berbalik dan kembali lagi hingga tujuh keberlarian, akhirnyapun  saya mengunci panjangnya malam dengan membuka pintu siang tanpa istirahat sejenakpun agar air mata tak selalu jatuh demi mengenang dia yang lebih dicintai oleh Sang Pemiliknya Yang Abadi,  bagaimanapun  melepas kebiasaan – kebiasaan yang pada akhirnya indah dan membangun budaya yang asing seketika perihnya sebanding dengan kemanisan apa yang dikatakan sebagai keberimanan diri.
Melepas kebiasaan – kebiasaan yang pada akhirnya indah dan membangun budaya yang asing seketika



Secara perlahan, ibarat tetesan air dari tebing menuju batu di bawahnya setetes demi setetes rasa syukur pada Nya berkumpul menjadi secercah kekuatan agar dilipat gandakan sehingga menjadi kobaran api yang menghangatkan orang disekelilingnya.
Alhamdulillah Allah menganugerahkan banyak hal, dan dia sang tercinta (suami dan Ayah putera dan puteri kami)   adalah jembatan indah menuju kegaiban menanti kami disisi Nya.



#UsiaCantik #loreal . . . .   #bloggerperempuan







Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.

Posting Komentar